Headlines News :

Agen Bola : Berharap Gebrakan Pengurus PBSI di Tahun 2013

Written By vivi bola on Jumat, 04 Januari 2013 | 14.52

Agen Bola : Berharap Gebrakan Pengurus PBSI di Tahun 2013
Agen Bola


detiksport/Rengga Sancaya
Jakarta - Tahun 2012 yang kelabu sudah berlalu. Kini publik berharap banyak kepengurusan baru PBSI di bawah komando Gita Wirjawan mampu mengawali era kebangkitan prestasi bulutangkis Indonesia.

Tanpa bermaksud melupakan kerja keras kepengurusan PBSI sebelumnya, harus diakui bahwa tahun 2012 memang salah satu periode kelabu dalam sejarah perbulutangkisan Indonesia dua dekade terakhir. Indikator utamanya, tentu, kegagalan mempertahankan tradisi medali emas yang dimulai sejak Olimpiade 1992. Tak sekadar gagal merebut emas, bahkan untuk pertama kalinya bulutangkis gagal menyumbangkan medali bagi kontingen Indonesia pada Olimpide 2012.

Keterpurukan di Olimpiade itu melengkapi rentetan kegagalan kita di sejumlah ajang besar lainnya, seperti Piala Thomas, Piala Uber, Piala Suhandinata (kejuaraan dunia beregu junior), hingga Superseries Finals. Bahkan dari 60 gelar yang tersedia di ajang Superseries sepanjang 2012, para pebulutangkis kita hanya mampu merebut empat gelar.

Sisi suram lainnya adalah "skandal Olimpiade" yang melibatkan pasangan putri Greysia Polii/Meiliana Jauhari. Akibatnya Greysia/Meilia harus menjalani hukuman larangan bertanding tiga bulan setelah dinyatakan bersalah melakukan tindakan tidak sportif saat berlangsungnya Olimpiade di London.

Jangan lupa, tahun 2012 juga ditandai dengan regenerasi yang berjalan kurang mulus. Taufik Hidayat menyatakan akan segera pensiun manakala Sony Dwi Kuncoro, Simon Santoso, Tommy Sugiarto, hingga Dionysius Hayom Rumbaka belum bisa menggantikan perannya. Ganda putra legendaris Markis Kido/Hendra Setiawan akhirnya juga “berpisah” tanpa penerus yang sepadan.

Tentu, bukan berarti tak ada yang bisa dibanggakan sepanjang 2012. Tercatat ada secercah harapan lewat keberhasilan menjuarai nomor ganda campuran Kejuaraan Dunia Junior atas nama pasangan Edi Subaktiar/Melati Daeva Oktaviani. Ganda campuran Tontowi Ahmad/Lilyana Natsir juga menghidupkan kembali tradisi juara All England setelah terputus sembilan tahun.

Hanya saja, secara keseluruhan, terjadinya kemandekan dalam prestasi bulutangkis Indonesia memang tak bisa dibantah. Saat ini, bukan hanya Cina, Korea Selatan, Malaysia, atau Denmark yang melewati prestasi kita. Bahkan Thailand, Jepang, dan India pun kini bisa mengimbangi prestasi para pemain kita di berbagai kejuaraan.

Tak heran jika Indonesia hanya meloloskan pasangan Tontowi/Liliyana pada Superseries Finals 2012 -- M. Rijal/Debby Susanto masuk sebagai pengganti. Padahal Thailand saja mengirim empat wakil di empat nomor. Jepang meloloskan lima wakil, begitu pula Malaysia yang tampil dengan lima wakilnya di tiga nomor.



Jelas sekali, banyak yang harus dibenahi jajaran pengurus baru periode 2012-2016 yang dilantik pada 14 Desember lalu. Langkah awal yang baik telah dibuat Gita lewat susunan pengurus PB PBSI yang lebih mengakomodasi keterlibatan para mantan pemain. Ini salah satu "titik lemah" kepengurusan lama yang dianggap kurang memberi peran kepada para mantan pemain.

Masuknya deretan mantan pemain sekelas Rexy Mainaky, Ricky Subagja, Basri Yusuf, dan Susi Susanti membuat kepengurusan baru PBSI diterima dengan tangan terbuka oleh komunitas bulutangkis nasional. Apalagi, untuk mewujudkan hal itu, Gita mau bekerja keras memulangkan Rexy dari Filipina dan Basri dari Singapura.



Namun itu baru langkah awal. Yang lebih ditunggu publik, tentunya, gebrakan PBSI yang terkait langsung dengan upaya peningkatan prestasi. Tolok ukurnya adalah kebijakan PBSI dalam penunjukan pelatih, pengembangan program pelatnas, seleksi dan pengiriman pemain, hingga pemberdayaan peran klub dan pelatda dalam menopang keberadaan pelatnas Cipayung.

Soal penunjukan pelatih dan pengembangan pelatnas, saya tidak ragu. Saya yakin, kembalinya Rexy bersama Basri akan membuat dua aspek tersebut bisa segera dibenahi. Apalagi pos Kasubid Pelatnas masih dijabat Christian Hadinata yang sangat mengenal Rexy maupun Basri.

Menyangkut peran pusdiklat di daerah, Rexy juga sudah "membocorkan" sebagian programnya untuk lebih mengaktifkan peran pusdiklat di daerah. Menurut Rexy, pusdiklat di daerah kelak berbentuk semacam pelatnas mini. Dengan adanya pusdiklat di daerah, orang tua para atlet muda tak khawatir putra-putrinya harus berhenti sekolah karena masuk pelatnas di Jakarta.

Yang harus dipikirkan Rexy dan Basri, bagaimana membuat pusdiklat di daerah bisa menghasilkan pemain-pemain yang mampu bersaing di tingkat nasional. Hanya dengan cara itu pusdiklat tersebut bisa terjaga eksistensinya dan terasa manfaatnya bagi daerah. Untuk itu, perlu dipikirkan persebaran pelatih berkualitas secara merata di daerah. Tidak semua pelatih bagus terkonsentrasi di Cipayung. Harus ada yang ditempatkan di daerah untuk menggali lebih banyak potensi pemain lokal.

Yang paling krusial adalah seleksi dan pengiriman pemain ke kejuaraan internasional. Ini titik rawan yang sering menimbulkan benturan. Bahkan pada kepengurusan lalu sering jadi sasaran tembak karena dianggap dijalankan atas dasar "like and dislike".

Tak mudah bagi kepengurusan baru untuk mengubah anggapan miring tersebut. Harus ada sistem dan mekanisme yang jelas, terbuka, dan transparan, terutama menyangkut pembentukan tim untuk ajang besar semacam SEA Games, Piala Thomas, Piala Uber, atau Piala Sudirman.

Bagi para penghuni pelatnas utama, sebaiknya diberlakukan penilaian yang ketat dan terukur dengan indeks performa. Misalnya, sepanjang 2013, Simon Santoso disiapkan mengikuti 10 turnamen Superseries dengan target tiga kali juara dan dua kali masuk final. Jika gagal, ada semacam sanksi. Misalnya dikurangi jatahnya ikut Superseries dan sebagian dialihkan ke kelas GP Gold.

Sistem ini harus diberlakukan bagi semua pemain secara proporsional, sehingga tak ada lagi pemain yang terus-menerus dikirim ke berbagai turnamen Superseries padahal selalu rontok di putaran pertama atau kedua. Boleh jadi, pemain tersebut levelnya baru kelas GP Gold sehingga mestinya lebih banyak dikirim ke turnamen di bawal level Superseries tersebut agar kemampuannya lebih berkembang.

Pada saat ini, prestasi kita mungkin benar mulai tertinggal. Namun, dari segi bakat dan potensi, pebulutangkis Indonesia sesungguhnya masih mampu bersaing. Lihat saja bagaimana Lindaweni akhirnya menjuarai tunggal putri turnamen India Terbuka GP Gold, belum lama ini. Saya tak ingat persis kapan kita terakhir kali memenangkan nomor tunggal putri kejuaraan besar setelah Firdasari menjuarai Belanda Terbuka 2006 dan Maria Febe berjaya di Bitburger Open 2008.

Kehadiran mantan pemain sekaliber Susi, Rexy, dan Ricky seyogyanya dapat menginspirasi kelahiran generasi baru pebulutangkis nasional yang lebih andal dan berprestasi. Mungkin tidak secara instan pada tahun 2013 ini. Namun, setidaknya, mereka bisa memulainya dengan meletakkan fondasi yang tepat bagi kebangkitan itu.

===







* Penulis adalah pemerhati bulutangkis nasional.
Anda sedang membaca artikel tentang Agen Bola : Berharap Gebrakan Pengurus PBSI di Tahun 2013 dan anda bisa menemukan artikel Agen Bola : Berharap Gebrakan Pengurus PBSI di Tahun 2013 ini dengan url http://bola338.blogspot.com/2013/01/agen-bola-berharap-gebrakan-pengurus.html,anda boleh menyebar luaskannya atau mengcopy paste-nya jika artikel Agen Bola : Berharap Gebrakan Pengurus PBSI di Tahun 2013 ini sangat bermanfaat bagi teman-teman anda,namun jangan lupa untuk meletakkan link Agen Bola : Berharap Gebrakan Pengurus PBSI di Tahun 2013 sebagai sumbernya.
Agen Bola : Berharap Gebrakan Pengurus PBSI di Tahun 2013 9 out of 10 based on 99978 ratings. 1 user reviews.
Posted by: Admin bola338.com, Updated at: 14.52
Share this article :
 
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger